• Jelajahi

    Copyright © Hukum Maritim
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    UNDANG UNDANG NO 17 TAHUN 2008 BAB XI SYAHBANDAR

    Senin, 27 Maret 2023, 05:45 WIB Last Updated 2023-03-27T08:08:19Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     


    BAB XI

    SYAHBANDAR

    Bagian Kesatu
    Fungsi, Tugas, dan Kewenangan Syahbandar

    Pasal 207

    1.     Syahbandar melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran yang mencakup, pelaksanaan, pengawasan dan penegakan hukum di bidang angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan perlindungan lingkungan maritim di pelabuhan.

    2.     Selain melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Syahbandar membantu pelaksanaan pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) di pelabuhan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    3.     Syahbandar diangkat oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan kompetensi di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran serta kesyahbandaran.

    Pasal 208

    1.     Dalam melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (1) Syahbandar mempunyai tugas:

    a.     mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan;

    b.    mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur-pelayaran;

    c.      mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan;

    d.    mengawasi kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air;

    e.     mengawasi kegiatan penundaan kapal;

    f.       mengawasi pemanduan;

    g.     mengawasi bongkar muat barang berbahaya serta limbah bahan berbahaya dan beracun;

    h.    mengawasi pengisian bahan bakar;

    i.        mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang;

    j.        mengawasi pengerukan dan reklamasi;

    k.     mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan;

    l.        melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan;

    m. memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di pelabuhan; dan

    n.    mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim.

    2.     Dalam melaksanakan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (1) Syahbandar melaksanakan tugas sebagai Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Pasal 209

    Dalam melaksanakan fungsi dan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 dan Pasal 208 Syahbandar mempunyai kewenangan:

    a.      

    1.     mengkoordinasikan seluruh kegiatan pemerintahan di pelabuhan;

    2.     memeriksa dan menyimpan surat, dokumen, dan warta kapal;

    3.     menerbitkan persetujuan kegiatan kapal di pelabuhan;

    4.     melakukan pemeriksaan kapal;

    5.     menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar;

    6.     melakukan pemeriksaan kecelakaan kapal;

    7.     menahan kapal atas perintah pengadilan; dan

    8.     melaksanakan sijil Awak Kapal.

    Pasal 210

    1.     Untuk melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (1) dibentuk kelembagaan Syahbandar.

    2.     Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan kelembagaan Syahbandar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

    Bagian Kedua
    Koordinasi Kegiatan Pemerintahan di Pelabuhan

    Pasal 211

    1.     Syahbandar memiliki kewenangan tertinggi melaksanakan koordinasi kegiatan kepabeanan, keimigrasian, kekarantinaan, dan kegiatan institusi pemerintahan lainnya.

    2.     Koordinasi yang dilaksanakan oleh Syahbandar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka pengawasan dan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran.

    Pasal 212

    1.     Dalam melaksanakan keamanan dan ketertiban di pelabuhan sesuai dengan ketentuan konvensi internasional, Syahbandar bertindak selaku komite keamanan pelabuhan (Port Security Commitee).

    2.     Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Syahbandar dapat meminta bantuan kepada Kepolisian Republik Indonesia dan/atau Tentara Nasional Indonesia.

    3.     Bantuan keamanan dan ketertiban di pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah koordinasi dalam kewenangan Syahbandar.

    4.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan keamanan dan ketertiban serta permintaan bantuan di pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

    Bagian Ketiga
    Pemeriksaan dan Penyimpanan Surat,
    Dokumen, dan Warta Kapal

    Pasal 213

    1.     Pemilik, Operator Kapal, atau Nakhoda wajib memberitahukan kedatangan kapalnya di pelabuhan kepada Syahbandar.

    2.     Setiap kapal yang memasuki pelabuhan wajib menyerahkan surat, dokumen, dan warta kapal kepada Syahbandar seketika pada saat kapal tiba di pelabuhan untuk dilakukan pemeriksaan.

    3.     Setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) surat, dokumen, dan warta kapal disimpan oleh Syahbandar untuk diserahkan kembali bersamaan dengan diterbitkannya Surat Persetujuan Berlayar.

    4.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberitahuan kedatangan kapal, pemeriksaan, penyerahan, serta penyimpanan surat, dokumen, dan warta kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Pasal 214

    Nakhoda wajib mengisi, menandatangani, dan menyampaikan warta kapal kepada Syahbandar berdasarkan format yang telah ditentukan oleh Menteri.

    Pasal 215

    Setiap kapal yang memasuki pelabuhan, selama berada di pelabuhan, dan pada saat meninggalkan pelabuhan wajib mematuhi peraturan dan melaksanakan petunjuk serta perintah Syahbandar untuk kelancaran lalu lintas kapal serta kegiatan di pelabuhan.

    Bagian Keempat
    Persetujuan Kegiatan Kapal di Pelabuhan

    Pasal 216

    1.     Kapal yang melakukan kegiatan perbaikan, percobaan berlayar, kegiatan alih muat di kolam pelabuhan, menunda, dan bongkar muat barang berbahaya wajib mendapat persetujuan dari Syahbandar.

    2.     Kegiatan salvage, pekerjaan bawah air, pengisian bahan bakar, pengerukan, reklamasi, dan pembangunan pelabuhan wajib dilaporkan kepada Syahbandar.

    3.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh persetujuan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Bagian Kelima
    Pemeriksaan Kapal

    Pasal 217

    Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautan dan keamanan kapal di pelabuhan.

    Pasal 218

    1.     Dalam keadaan tertentu, Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautan kapal dan keamanan kapal berbendera Indonesia di pelabuhan.

    2.     Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautan dan keamanan kapal asing di pelabuhan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    3.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Bagian Keenam
    Surat Persetujuan Berlayar

    Pasal 219

    1.     Setiap kapal yang berlayar wajib memiliki Surat Persetujuan Berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar.

    2.     Surat Persetujuan Berlayar tidak berlaku apabila kapal dalam waktu 24 (dua puluh empat) jam, setelah persetujuan berlayar diberikan, kapal tidak bertolak dari pelabuhan.

    3.     Surat Persetujuan Berlayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan pada kapal atau dicabut apabila ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 117 ayat (2), Pasal 125 ayat (2), Pasal 130 ayat (1), Pasal 134 ayat (1), Pasal 135, Pasal 149 ayat (2), Pasal 169 ayat (1), Pasal 213 ayat (2), atau Pasal 215 dilanggar.

    4.     Syahbandar dapat menunda keberangkatan kapal untuk berlayar karena tidak memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal atau pertimbangan cuaca.

    5.     Ketentuan mengenai tata cara penerbitan Surat Persetujuan Berlayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Bagian Ketujuh
    Pemeriksaan Pendahuluan Kecelakaan Kapal

    Pasal 220

    1.     Syahbandar melakukan pemeriksaan terhadap setiap kecelakaan kapal untuk mencari keterangan dan/atau bukti awal atas terjadinya kecelakaan kapal.

    2.     Pemeriksaan kecelakaan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemeriksaan pendahuluan.

    Pasal 221

    1.     Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal berbendera Indonesia di wilayah perairan Indonesia dilakukan oleh Syahbandar atau pejabat pemerintah yang ditunjuk.

    2.     Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal berbendera Indonesia di luar perairan Indonesia dilaksanakan oleh Syahbandar atau pejabat pemerintah yang ditunjuk setelah menerima laporan kecelakaan kapal dari Perwakilan Pemerintah Republik Indonesia dan/atau dari pejabat pemerintah negara setempat yang berwenang.

    3.     Hasil pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220 dapat diteruskan kepada Mahkamah Pelayaran untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

    Bagian Kedelapan
    Penahanan Kapal

    Pasal 222

    1.     Syahbandar hanya dapat menahan kapal di pelabuhan atas perintah tertulis pengadilan.

    2.     Penahanan kapal berdasarkan perintah tertulis pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan berdasarkan alasan:

    a.     kapal yang bersangkutan terkait dengan perkara pidana; atau

    b.    kapal yang bersangkutan terkait dengan perkara perdata.

    Pasal 223

    1.     Perintah penahanan kapal oleh pengadilan dalam perkara perdata berupa klaim-pelayaran dilakukan tanpa melalui proses gugatan.

    2.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penahanan kapal di pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Bagian Kesembilan
    Sijil Awak Kapal

    Pasal 224

    1.     Setiap orang yang bekerja di kapal dalam jabatan apa pun harus memiliki kompetensi, dokumen pelaut, dan disijil oleh Syahbandar.

    2.     Sijil Awak Kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tahapan:

    a.     penandatanganan perjanjian kerja laut yang dilakukan oleh pelaut dan perusahaan angkutan laut diketahui oleh Syahbandar; dan

    b.    berdasarkan penandatanganan perjanjian kerja laut, Nakhoda memasukkan nama dan jabatan Awak Kapal sesuai dengan kompetensinya ke dalam buku sijil yang disahkan oleh Syahbandar.

    Bagian Kesepuluh
    Sanksi Administratif

    Pasal 225

    1.     Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 213 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 214, atau Pasal 215 dikenakan sanksi administratif, berupa:

    a.     peringatan;

    b.    pembekuan izin atau pembekuan sertifikat; atau

    c.      pencabutan izin.

    2.     Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

    BAB XII

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini